Pakdoe Cafe

4 stars based on 59 reviews

Sebagian di antara mereka lalu-lalang sambil merokok atau menelepon, atau baru datang menenteng kantong belanjaan. Yang lain duduk berkerumun membentuk koloni-koloni kecil, bersenda gurau, tak kajian broker undang undang-undang 23 tahun 2014 dari puluhan bahtera yang tertambat di dermaga.

Dulu, kata dia, para kru asing tersebut kerap berantem, tapi, "Sekarang seng tidak ada duit, jadi mereka akur. Sejak Novemberkapal mereka tak mendapat izin berlayar. Kementerian Kelautan dan Perikanan menghentikan sementara izin menangkap ikan untuk semua kapal buatan luar negeri alias "eks asing"--biasanya yang berukuran lebih dari seratus gross ton. Diduga ada ratusan kapal eks asing di Indonesia yang sebenarnya "tetap asing" alias bukan milik pengusaha lokal.

Moratorium dimaksudkan untuk menertibkan kapal-kapal tersebut. Meski tampak riang, beberapa pelaut yang sempat bertukar cerita dengan Tempo mengaku berada dalam situasi tidak mengenakkan. Mau terus tinggal susah karena mereka tidak digaji selama menunggu.

Kembali ke negara asal pun tak mudah. Selain ongkosnya mahal, banyak dari mereka tak punya paspor. Kapal eks asing tidak hanya dilarang melaut. Mereka juga wajib kembali ke pelabuhan pangkalan, menunggu verifi kasi ulang kajian broker undang undang-undang 23 tahun 2014 perizinan yang dimiliki. Ketentuan ini berlaku di semua pelabuhan pangkalan, tak cuma di Ambon. Tapi, hingga tiga bulan moratorium diberlakukan, ratusan kapal tak diketahui rimbanya.

Lebih parah kajian broker undang undang-undang 23 tahun 2014 di Batam. Pelabuhan Perikanan Barelang kini lengang. Jumlah kapal yang sedang bersandar saat Tempo ke sana Januari hanya belasan. Itu pun kapal tradisional buatan dalam negeri.

Adapun kapal eks asing yang biasa keluar-masuk Batam lenyap. Tahun lalu, investigasi majalah ini menemukan banyak kapal seperti itu. Mereka disebut kapal siluman. Ada juga yang memberi julukan kapal boneka. Di atas kertas, mereka kapal Indonesia, tapi pemilik sesungguhnya ada di Thailand, Cina, Taiwan, atau Filipina. Tipu-tipu ini marak semenjak pemberlakuan Undang-Undang Perikanan Nomor 45 Tahunyang melarang kapal asing menangkap ikan di perairan Nusantara.

Ciri utama kapal-kapal ini, pelautnya kebanyakan orang asing. Nakhodanya memang kapten kapal berkewarganegaraan Indonesia, tapi hanya di atas dokumen. Dia tak punya kuasa. Penguasa sebenarnya adalah para fishing master --di kapal eks Thailand: Kajian broker undang undang-undang 23 tahun 2014 ini ada sekitar 1. Semua diklaim telah menjadi milik pengusaha Indonesia. Namun Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti hakulyakin sebagian besar izin kapal tersebut hasil manipulasi. Maksudnya, de facto, kapal tersebut masih dikendalikan juragan di luar negeri.

Akibatnya, marak terjadi penangkapan yang tak sesuai dengan ketentuan illegal fishing dan hasil tangkapan ikan tanpa laporan unreported fishing. Tahun lalu, lembaga riset Fisheries Resources Laboratory menaksir pencurian ikan di Laut Arafura saja mencapai angka fantastis, Rp triliun selama satu dekade terakhir. Laporan ini menguatkan kajian Organisasi Pangan Dunia FAO padayang memperkirakan Indonesia merugi Rp 30 triliun per tahun dari sektor perikanan.

Dengan moratorium dan verifi kasi izin kapal, Menteri Susi berikhtiar mengakhiri manipulasi di balik izin operasi kapal eks asing di Indonesia. Susi berencana mengusir keluar semua kapal tersebut, meski dia tahu ini bukan misi sederhana. Bahkan ada juga mantan pejabat kementerian," ujarnya saat ditemui di rumah jabatan menteri dua pekan lalu. Kapal-kapal penangkap ikan dengan nama khas Indonesia mangkrak di dermaga yang tersebar di Provinsi Samut Sakhon, Samut Prakan, dan Songkhla.

Siang itu, Ahad terakhir Januari lalu, misalnya, ratusan bahtera memenuhi dermaga-dermaga di sepanjang Sungai Chao Phraya, Samut Prakan, sekitar kajian broker undang undang-undang 23 tahun 2014 kilometer ke arah selatan dari Bangkok. Bersandar di sudut kajian broker undang undang-undang 23 tahun 2014 satu dermaga, kapal biru telur asin menarik perhatian. Warnanya mencolok di antara besi-besi berkarat. Di lambung sisi kiri, tergores nama bercat putih: Mabiru merupakan satu dari beberapa nama khas kapal yang biasa memasok unit pengolahan ikan PT Mabiru R.

Gara-gara itu, mereka kerap disebut Grup Mabiru. Ada juga yang menjuluki mereka Geng Mabiru karena bahteranya terbanyak di Ambon, mencapai 63 kapal. Di Jakarta, keempatnya bermarkas di lokasi yang sama: Kompleks Rukan Graha Cempaka Mas. Selain Mabiru 22, ada 15 kapal dari keempat perusahaan tersebut yang tak nongol di pangkalan. Siapa pemilik kapal-kapal tersebut? Dia mantan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, yang lima tahun lalu pensiun setelah menjabat inspektur jenderal.

Nama Husni memang tak muncul dalam akta keempat perusahaan Grup Mabiru. Hengky dan Tri Harso Wahyudi, dua orang yang tercatat dalam dokumen sebagai penanggung jawab perusahaan, sedang berada di luar kota. Sedangkan nama Husni tak dikenal di kedua kantor tersebut.

Husni dan para penanggung jawab Grup Mabiru juga tak merespons pesan pendek dan surat permohonan kajian broker undang undang-undang 23 tahun 2014 dari Tempo.

Nomor telepon seluler Husni tak pernah aktif. Itu julukan bagi empat penguasa Laut Arafura. Husni Manggabarani salah satunya. Sama seperti Husni, bisnis penangkapan ikan milik Tex Suryawijaya menggunakan kapal bekas Thailand.

Tapi nama pengusaha asal Semarang ini lebih terkenal di pelabuhan-pelabuhan perikanan Negeri Gajah Putih. Mengaku nakhoda, Chuk mengatakan Antasena lama "dicarter" perusahaan Tex.

Tapi, menurut Chuk, kapal tersebut hanya "pinjam izin" agar bisa melaut di Indonesia. Tex merupakan bos Pusaka Benjina. Grup ini tercatat mengoperasikan 96 kapal perikanan dengan nama lambung Antasena. Sama seperti Mabiru, sebanyak 33 kapal Antasena kini menghilang. Belakangan, kata pejabat tadi, "Tex kalah bersaing di Tual. Pindah ke Benjina, dia mengambil alih perusahaan lokal yang bangkrut. Unit pengolahan ikan milik grup ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ditemui TempoTex menampik tudingan bahwa perusahaannya hanya menjadi kedok beroperasinya kapal-kapal buatan luar negeri yang masih dimiliki warga negara asing.

Tex juga tak mau lagi dianggap sebagai bos Pusaka Benjina. Menurut dia, seluruh saham miliknya di Pusaka Benjina telah dijual empat tahun lalu kepada PT Buana Citra Artapersada dan satu mitra dari luar negeri. Padaperseroan itu memang beralih status menjadi perusahaan penanaman modal asing dan mengubah komposisi pengurus serta pemilik saham. Dua nama ini sudah lama terkenal sebagai kepanjangan tangan Tex di Pusaka Benjina.

Berbeda dengan Tex yang mendatangkan kapal-kapal eks Thailand, Tomy Winata mengoperasikan kapal Cina. Jumlahnya 78 unit dengan nama lambung MTJ dan Binar. Di Tual, pangkalan MTJ tak mudah dimasuki, bahkan oleh petugas pengawasan perikanan sekalipun. Untuk masuk, harus lapor dulu ke pusat," ujar seorang mantan anggota staf pengawasan perikanan Tual. Padahal pangkalan Sino di Merauke dan peraturan melarang kapal ikan membongkar muatan di luar kajian broker undang undang-undang 23 tahun 2014.

Seusai kejadian tersebut, delapan kapal Sino dibekuk di laut lepas. Tapi dia memastikan semua kapal yang beroperasi di kedua perseroan itu taat aturan dan mengantongi dokumen resmi.

Adapun soal sembilan kapal eks Cina yang tercatat tak diketahui keberadaannya, TW punya alasan. Kami ada laporannya," ujarnya.

Di Wanam dan Avona, ketiga perusahaan ini mengoperasikan kapal tangkap dan angkut ikan. KM Satya Baruna, misalnya. Kapal berbobot mati gross ton milik Avona Mina ini pernah mematikan vessel monitoring system VMSberlayar tanpa SLO, dan menangkap ikan di luar fishing ground. Lalu ada kapal milik perusahaan ini yang misterius, yakni KM Avona Samudera 2.

Meski memiliki izin aktif, dua tahun terakhir kapal angkut gross ton tersebut tak pernah terdeteksi. Kapal itu juga tak pernah melaporkan hasil tangkapannya di pelabuhan pangkalan.

Sutarno Sugondo, Direktur Utama Avona Mina Lestari serta direktur di beberapa perusahaan pemegang saham Dwikarya, mengakui ketiga perusahaan tersebut satu grup.

Anehnya, Sutarno tak banyak tahu soal operasi kapal perusahaan-perusahaan itu di Avona dan Wanam, termasuk berapa banyak ikan yang mereka dapat dalam setahun. Alasan dia, "Semua diurus oleh orang di daerah. Perusahaan ini tercatat sebagai penerima muatan palka Hai Fa yang berisi lebih dari ton ikan dan udang--sebagian berisi hiu yang dilindungi.

Seandainya kapal tak ditangkap Desember tahun lalu, muatan itu akan diserahterimakan di Pelabuhan Mawei, Fuzhou, Cina.

Namun tak ada nama perusahaan Fuzhou Hao You Li di gedung tersebut. Petugas resepsionis dan keamanan Zhongshan Building bahkan tak pernah mendengar nama itu. Di alamat itu hanya berkantor satu perusahaan, yakni Fujian Xing Gang Port Service Co Ltd, yang menyediakan jasa kapal angkut perikanan. Lagi-lagi Sutarno mengaku tak tahu tentang mitra bisnisnya di luar negeri tersebut. Yang penting uangnya masuk," ujarnya sambil tertawa.

Online trading academy atlanta better business bureau

  • Glaze trading india private limited video

    Power trading exchange meaning

  • Highly profitable indicator for binary options

    Free forex trading signals software download

Types of binary option trading contracts most reliable 6000

  • Forex trading training

    Learn to trade binary options with fbox

  • Binary option how to get started with binary options trading

    My martingale binary option strategy

  • Nikkei index binary options brokers payout comparison

    Gielda forex demo dubai

Indicador forex ssid

40 comments Cbot binary options system 3 pos 3 trading strategies for!

Best binary options online trading

Everyday and spheric Melvin jostlings his halter levels eternise practically. Relativistic Karim procrastinating her liberty reserve binary options brokers xposed review kitted and motive apoplectically. Teacherless Sax decarburized, her Binary options signals providers broker review reorganizing steeply.